![]() |
| AKTIVITAS warga di salah satu MCK Umum Kampung Bukit Jarian, Kelurahan Hegarmanah, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung |
KOTA Bandung agresif menuju smart city, yakni kota pintar yang memanfaatkan teknologi untuk mengatasi masalah kotanya. Namun, siapa sangka ternyata urusan akses jamban sehat, Kota Bandung berada di urutan 24 dari 27 daerah se-Jawa Barat. Akses jamban sehat Kota Bandung hanya 54,57.
Sementara Jawa Barat bertengger di peringkat 20 dari 34 provinsi se-Indonesia dengan akses jamban sehat 70,42. Dengan kata lain, masih banyak warga yang BAB sembarangan.
Merujuk data SMS Gateway Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), baru 1 dari 151 kelurahan di Kota Bandung yang berstatus open defecation free (ODF) atau tidak BAB sembarangan, yakni Kelurahan Rancanumpang di Kecamatan Gedebage. STBM dicanangkan Menteri Kesehatan pada Oktober 2011.
Masih ada 14,45 juta orang yang BAB sembarangan seperti di sungai, kebun, juga sawah. Dari 1.559 RW, baru 283 RW yang ODF. "Beberapa alasannya adalah masih adanya daerah-daerah kumuh, keterbatasan lahan, keterbatasan biaya, dan rendahnya kesadaran masyarakat," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Achyani Raksanagara, pada saat sambutan Gebyar Sanitasi yang dibacakan Kepala Bidang Bina Yankes, Exenveny, di Saung Udjo, Padasuka, Selasa, 28 November 2016.
Pemerintah Kota Bandung telah membangun septic-tank komunal di berbagai lokasi, merehabilitasi MCK umum, sampai merehabilitasi rumah tidak layak huni. Rumah tidak layak huni kemudian dilengkapi dengan septic-tank. Awal 2017, dua kelurahan lagi diupayakan ODF yakni Kelurahan Manjahlega dan Kelurahan Antapani Tengah.
"Pelibatan aparat kewilayah dirasakan sangat penting, juga melibatkan sanitarian puskesmas setempat, kader kesehatan, dan tokoh-tokoh masyarakat," tutur dia. Pelibatan Perusahaan Daerah Air Minum dalam pembangunan instalasi pembuangan air limbah juga turut berkontribusi.
Di Kelurahan Antapani Tengah, sedang dibangun seribu sambungan IPAL sehingga mendukung pembuangan limbah rumah tangga termasuk limbah BAB.
Ketua PKK Kelurahan Rancanumpang, Tati Suharti Hermawan, mengatakan keberhasilan Kelurahan Rancanumpang berkat sinergi semua pihak baik kecamatan, kelurahan, RW, PKK, Bina Wilayah, Karang Taruna, juga Lembaga Pemberdayaan Masyarakat. "Sebelumnya ada sekitar 300 kepala keluarga di dua RW yang masih BAB sembarangan," ujar Tati.
Di antara keluarga tersebut, terdapat pula yang mampu secara ekonomi. Namun, Tati menyebut mereka telanjur nyaman dengan tradisi BAB sembarangan. Setelah dilakukan sosialisasi secara intensif tentang pentingnya jamban, Tati mencatat ternyata keterbatasan lahan dan pendapatan warga bukanlah kendala.
"Ada seorang nenek yang rumahnya kecil. Tapi ketika orang-orang disekitarnya membuat jamban, dia ikut buat. Secara berkala dia mau membayar untuk sedot WC," tutur dia. Pengadaan jamban sehat dengan septic-tank juga akhirnya di Rancanumpang lebih banyak dilakukan swadaya oleh warga daripada oleh bantuan stimulan.
Bertambahnya akses jamban sehat, berpengaruh positif terhadap pengurangan pasien di Puskesmas. "Sekarang Puskesmas jarang pasien diare juga DB (demam berdarah). Dulu ada saja," kata Tati.***

